DERITA HARTA HARAM

Ikhwati Rahimakumullah… Al qur’an adalah firman Allah swt yang merupakan mu’jizat terbesar yang Allah swt wahyukan dan turunkan kepada Nabi Muhammad saw, yang memiliki beribu-ribu dan bermacam-macam kemulian dan keutamaan, serta gudangnya segala disiplin ilmu terutama dalam hal ilmu lughoh (bahasa) dan balaghoh (sastra), diantara kemulian dan mu’jizat dari pada isi al qur’an adalah dalam hal bahasa dan sastra yang walaupun al qur’an bukanlah kitab atau buku sastra, namun didalam al qur’an banyak sekali mengandung hal-hal yang berrkaitan dengan masalah sastra dan bahasa, salah satunya adalah apa yang terdapat dalam qur’an surat al baqoroh yang merupakan surat terpanjang dalam al qur’an

Jika kita mencermati isi dari pada surat al baqorah yang total ayatnya berjumlah 286 ayat ada hal yang sangat menarik dan unik sekali, terutama dari sisi bahasa dimana dari sekian banyaknya ayat-ayat dalam surat al baqoroh Allah swt menggunakan shigoh (bentuk) seruan  (ياايهاالذين)dengan meyandingkan kata-kata آمنوا)) Aamanu (orang-orang beriman) sampai sebeblas kali dalam surat al baqoroh tersebut, namun ada juga dua ayat dimana Allah swt menggunakan kata seruan  (ياايها)hanya menyandingkan dan menggunakan shighoh seruan dengan kata (النّاس) An Naas (manusia) cuma dua kali. Adapun ayat yang menggunakan shigoh An Naas yaitu terdapat pada ayat 21 dan 168, sedangkan ayat-ayat yang menggunakan shighoh Aamanu terdapat pada ayat 104, 153, 172, 178, 183, 208, 254, 264, 267, 278, dan ayat 282

Dan yang lebih menariknya lagi ikhwati filah, Allah swt menggunakan dua bentuk (shigoh) “An Naas dan Aamanu” yang terdapat pada ayat 168 dan 172 semuanya berfungsi untuk menyeru kepada seluruh manusia di muka bumi ini agar meninggalkan segala bentuk makanan-makanan yang haram, yang tentunya pula seruan ini bukan hanya sekedar diperuntukan atau dikhususkan kepada orang-orang beriman saja, akan tetapi juga kepada seluruh kalangan manusia, karena betapa besarnya akan bahaya harta haram itu yang akan membawa pelakunya kepada penderitaan yang amat berat dan amat pedih, apalagi manusia yang ada pada hari ini adalah ummat yang berada di fase akhir zaman dimana cobaan dan fitnah terhadap fitnah harta begitu besar sekali yang akan menghampiri setiap umat Nabi Muhammad saw dan anak cucu keturunan Bani Adam, yang begitu memukau dan menggoda sehingga tak jarang kita dapatkan sebuah ungkapan dan celotehan dari sebagian kalangan masyarkat awam yang mengatakan “Jangankan mencari harta yang halal yang haram aja susah”

Maka benarlah apa yang telah disampaikan oleh baginda Rasulilah saw dalam sabdanya 14 abad silam yang lalu kepada ummatnya akan suatu kondisi dimana kelak nanti manusia tidak akan memperdulikan lagi akan sumber penghasilannya, dari manakah harta yang mereka dapatkan, apakah dari harta yang halal ataukah dari harta yang haram ?

Rasulallah saw bersabda:

ليأتين على الناس زْمانُ لا يبالي المرءُ بما أخذَ المال. أمن حلالٍ أم من حرام

Artinya : “Akan datang suatu masa, dimana orang-orang sudah tidak peduli lagi dengan apa dia mendapakan harta. Apakah dari jalan yang haram ataukah dari jalan yang halal” (Hr.Bukhori No 1071) [1]

Namun bagi seorang muslim yang mu’min tentu prinsip hidupnya bukan hanya sekedar slogan yang sering kita dengar “empat sehat lima sempurna” tapi lebih dari itu yaitu dengan ungkapan“empat sehat, lima sempurna, enam halal, tujuh toyyib, delapan barokah”  inilah sebuah konsep dan motto serta prinsip bagi seorang muslim yang mu’min yang harus dimilki juga bagi setiap induvidu muslim saat hendak mengkonsumsi dan memberikan makanan serta nafkah bagi keluarganya.

Karena seorang muslim yang mu’min tentu tahu dan mengerti betul bagaimana ancaman bagi orang-orang yang mencari dan mendapatkan hartanya dari jalur yang haram, sebagaiman apa yang telah di sampaikan oleh baginda Rasulillah saw dalam sebuah haditsnya.

Rasulallah saw menyebutkan bahwa orang yang mendapatkan hartanya dari hal-hal yang haram maka mustahil do’anya akan diterima dan di ijabah oleh Allah swt sebagaimana hal ini telah disebutkan dalam sebuah haditnya:

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ؛ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ اللهَ طَيِّبٌ لا يَقْبَلُ إلا طَيِّبًا، وَإِنَّ اللهَ أَمَرَ الْمُؤْمِنِينَ بِمَا أَمَرَ بِهِ الْمُرْسَلِينَ، فَقَالَ: {يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِن الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا إِنِّي بِمَا تعْمَلُونَ عَلِيمٌ} (1) وَقَالَ: {يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِن طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ} (2). ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُل يُطِيلُ السَّفَرَ، أَشْعَثَ أغْبَرَ يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ. يَارَبِّ، يَارَبِّ، وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ، وَمَشْرَبُهُ حَرَام، وَمَلْبَسُهُ حَرَام، وَغُذِىَ بِالْحَرَامِ، فَأنى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ” ( رواه مسلم)[2]

Artinya dari Abu Hurairoh “Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Allah itu thoyib (baik). Dia tidak akan menerima sesuatu melainkan yang baik pula. Dan sesungguhnya Allah telah memerintahkan kepada orang-orang mukmin seperti yang diperintahkan-Nya kepada para Rasul. Firman-Nya: ‘Wahai para Rasul! Makanlah makanan yang baik-baik (halal) dan kerjakanlah amal shalih. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.’ Dan Allah juga berfirman: ‘Wahai orang-orang yang beriman! Makanlah rezeki yang baik-baik yang Telah menceritakan kepada kami telah kami rezekikan kepadamu.’” Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan tentang seroang laki-laki yang telah lama berjalan karena jauhnya jarak yang ditempuhnya. Sehingga rambutnya kusut, masai dan berdebu. Orang itu mengangkat tangannya ke langit seraya berdo’a: “Wahai Tuhanku, wahai Tuhanku.” Padahal, makanannya dari barang yang haram, minumannya dari yang haram, pakaiannya dari yang haram dan diberi makan dengan makanan yang haram, maka bagaimanakah Allah akan memperkenankan do’anya?

Begitu pula dalam kitab Tafsir Taisirul Karimurrahman[3]ketika beliau Imam As Sa’di menafsirkan surat al baqoroh ayat 168 beliau menyebutkan bahwa yang termasuk dari pada katagori perbuatan-perbuatan yang mengikuti langkah-langkah Syaiton ialah mengkonsumsi segala makan-makanan yang haram, dan beliau pun menyebutkan pula bahwa yang namanya bentuk haram itu ada dua macam:

  • Pertama keharaman dari segi dzatnya yaitu segala bentuk hal-hal yang jekek, kotor dan buruk atau semua yang berlawanan pada hal-hal yang toyyib (baik)
  • Kedua keharaman dari segi hal-hal yang berkaitan pada hak-hak Allah swt, hak sesama hamba, atau semua yang berlawanan pada hal-hal yang halal

Maka oleh karena itu jagalah segala apa yang kita konsumsi baik buat diri kita, terlebih-lebih buat keluarga kita, agar ibadah yang kita kerjakan serta do’a yang kita senatiasa kita panjatkan dapat diterima oleh Allah swt, karena sebagaimana dalam sabda Nabi saw yang telah disebutkan diatas bahwa diantara penghalang dan penyebab utama tertolaknya sebuah do’a dan ibadah kita adalah tiada lain karena barang atau makanan yang kita konsumsi serta segala apa yang kita miliki berasal dan bersumber dari hal-hal yang haram, agar kehidupan kita tidak menderita karena penuh dengan barang-barang yang haram

Karena penderitaan di alam akhirat tidak akan sama dan sebanding dengan penderitaan di alam dunia, maka kalau di dunia saja kita akan mendapat penderitan maka bagaimana penderitan di alam akhirat nanti.

Maroji;

  • Syawahid At Taudihu Wa Tashih Li Musykilat Al Jami As Shohih, Muhammad Jamaludin Wafat 672, Tahqiq DR.Tahaa Muhsin, Maktabah Ibnu Taimiyah, Cet Ke 1 Thn 1405 H
  • Syarhu Shohih Muslim, Iyyad bin Musa Abu Fadhil Wafat 544, Tahqiq Yahya Ismail, Darul Wafa, Cet ke 1 Thn 1419 H/1998 M
  • Taisrul Karimurrahman, Imam As Sa’di, Majalatun Bayan

[1] Syawahid At Taudihu Wa Tashih Li Musykilat Al Jami As Shohih, Bab Nashbul Maful Bi Fili Mudhmar Ba’da Istifham Inkari, Muhammad Jamaludin Wafat 672, Tahqiq DR.Tahaa Muhsin, Maktabah Ibnu Taimiyah, Cet Ke 1 Thn 1405 H

[2] Syarhu Shohih Muslim, Iyyad bin Musa Abu Fadhil Wafat 544, Bab Qubulu Shodaqoh, Tahqiq Yahya Ismail, Darul Wafa, Cet ke 1 Thn 1419 H/1998 M

[3] Taisrul Karimurrahman, Imam As Sa’di, Hal 77, Majalatun Al Bayan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *